MENELITI
ASAL-USUL PEMBUATAN KERIS
Bila ingin mengetahui asal-usul
pembuatan keris, maka sebaiknyalah kita mengetahui dulu atau memperdalam soal
apa yang dinamakan PASIKUTAN. Setelah itu baru kitta memegang pedoman dengan
apa yang dinamakan PANANGGUHAN. Ada pun catatan keduanya ini dapat diterangkan
seperti di bawah ini:
A. PASIKUTAN.
Yang dinamakan pasikutan adalah
catatan rasa yang terdapat dalam perwujudan keris itu. Jadi kalau kita sudah
memegang keris tersebut, kita segera mendapat gambaran kenyataan bahwa
umpamanya:
1. Keris itu besarnya tidak seimbang
dengan panjangnya.
2. Kalau dilihat tebal tidak seimbang
dengan panjang dan lebarnya.
3. Kalau andaikan dalam bayangan
angan-angan keris tersebut kita samakan seperti manusia, mungkin kelihatan
keris itu terlalu bongkok, dan kepala terlalu besar dan lain sebagainya.
4. Keris dibayangkan seperti orang yang
tidak bersemangat dan lain sebagainya.
5. Perabaan dan perwujudan keris
seperti orang yang gagah riang, tangguh, kekar sereng dan lain sebagainya.
Semuanya itu dalam istilah atau kata kode perkerisan dinamakan Pasikutan.
B. PANANGGUHAN.
Yang dinamakan Panangguhan adalah pengira-ira (bahasa
Jawa), atau dalam bahasa
umumnya perkiraan bahwa keris tersebut buatan jaman
kapan. Sebab walaupun sama-sama dapur NAGA- SASRA umpamanya, tetapi banyak juga
perbedaannya dalam penggarapan atau beda dalam bahan-bahannya. Sebab kalau
keris.itu walau sama dapurnya, tetapi dibabar atau dibuat oleh lain jaman
apalagi tempat asal pembuatannya, tentu saja bahan-bahannya maupun
persyaratan-persyaratan lain-lain pun berbeda pula. Maka setelah keris itu
selesai dibuat, walaupun bentuk dan isiannya sama, tetapi pasti kelihatan
perbedaan bahan dan besar kecil panjang pendeknya buatan. Semuanya itu menurut
persediaan alam yang diambil atau yang dipergunakan oleh si pembuat pusaka
itu. Umpamanya mengenai syarat, air, kalau yang untuk mencampur pembikinan
-pusaka itu diambil dari air pegunungan, kalau dibanding dengan air yang
diambil dari tanah ngarai seperti tempat yang dekat dengan air lautan. Jika keris
itu selesai dibuat, pastilah akan kelihatan pancaran sinarnya yang lain. Keris
yang dibuat dengan campuran air
pegunungan biasanya akan kelihatan seakan-akan lembab-basah, sebaliknya keris
dengan campuran air laut akan kelihatan mengerak-kering.
Adapun
perputaran atau pergantian zaman pembuatan, orang-orang kuno sengaja menggunakan bahan-bahan setempat
sebagai syarat pathokan (Standard)
mereka.
Di sini dibabarkan perbedaan
pembuatan keris pada jaman yang satu dengan jaman yang lain, umpamanya:
1. KERIS BUATAN JAMAN PAJAJARAN.
Keris pembuatan jaman itu bisa
dilihat bahwa panjang kira-kira dua kilan atau kuran sedikit. Pengetrapan ganja
atau bentuknya ambathok mengkurep (bahasa Jawa). Sirah Cecaknya panjang,
Gandiknya miring panjang. Sogokannya tidak terlalu panjang. Adapun yang dibuat
lengkok atau Luk (bahasa Jawa), pasti lengkoknya merata antara satu dan lainnya
antara dua setengah' jari. Dalam rasa pandangan keris kelihatan sedikit memutih
dan garing, dikarenakan air yang sengaja untuk campurannya diambil dari air
asin. Keluarnya pamor seakan-akan tidak teratur, tetapi padat dan sebagian
besar memakai dasar gambar pamor Gajih. Lebar sesuai dengan panjangnya,
maka keris kelihatan gagah berwibawa. Nanun dalam rasa perabaannya sedikit
memberendul kurang rata.
2. KERIS BUATAN JAMAN MAJAPAHIT.
Dalam rasa semu keris buatan negeri ini bisa dikatakan
regu dan wingit. Bentuk ganja sebit lontar sirih cecaknya
pendek tetapi halus luwes. Gandiknya pendek sedikit miring, sogokan pendek
luwes. Yang dibuat lengkok (luk) kelihatan luknya sedikit renggang antara tiga
jari. Panjang kira-kira dua kilan, di ujung kelihatan runcing manis, Besinya
terasa padat kalau diraba terasa halus, dan kalau dipandang lama-lama keris
kelihatan berwarna hitam tetapi semua kebiru-biruan, kering dan lumer halus. Semuanya
itu karena air yang diambil untuk mencampur dalam pembuatan selalu dari
pegunungan dan dipilihkan yang betul-betul bersih. Kebanyakan pengetrapan
pamor selalu terang mabyor dan dibuat ngrambut atau bisa dikatakan
berserat-serat panjang.
3.
KERIS BUATAN BLAMBANGAN.
Keris ini masih sejaman dengan
Majapahit, hanya perbedaan terletak pada perwujudannya. Buatan. Blambangan selalu terasa besinya kelihatan
basah tetapi sedikit bersinar putih. Karena campuran besi sedikit kebanyakan
besi Penawangnya. Perabaannya terasa keras sebab air yang dipergunakan untuk
campuran diambil dari laut. Dasar pembuatan bentuk gambar pamor, masih banyak
mengambil dasar gambar Pamor Gajih, namun banyak juga yang diseling dengan cara
mrambut. Keris yang dibuat lengkok, bisa dilihat bahwa lengkoknya sengaja
dibikin kurang merata dan sedikit renggang kalau dibanding dengan buatan jaman
Majapahit. Yang dibuat lurus, pembikinannya begitu bersahaja dan ujungnya
tidak kelihatan runcing.
4. KERIS BUATAN JAMAN SEDAYU.
Masih sejaman dengan Majapahit.
Pembuatan bentuk Ganja selalu sebitlontar sedikit panjang. Walau panjang juga
sekira dua kilan, tetapi kelihatan ramping, dan lurusnya sengaja dibuat
mendoyong. Awak-awakan dari belakang kelihatan ramping, tetapi separo hingga
ujung sedikit melebar: Yang dibuat lengkok kelihatan lengkok'nya manis tidak
terlalu merenggang dan tidak terlalu
menggelombang. Hanya saja besi kelihatan kurang cahaya. Pamor sangat kurang
tetapi dibuat ngrambut, dan pengetrap- annya kurang memadat.
5. KERIS BUATAN JAMAN TUBAN.
Begitu juga masih sejaman dengan jaman Majapahit. Yang
dibuat lurus kelihatan garang karena awak-awakannya lebar, panjang ada yang
melebihi dua kilan. Dan dibuat tipis. Sirah Cecak besar pendek. Yang dibuat
lengkok, kelihatan lengkoknya merenggang dan ujungnya runcing. Besi kelihatan
kering terlalu baak besi bajanya. Pangetrapan pamor mubyar padat. Jika diraba
terasa halus.
6. KERIS BUATAN MADURA.
Juga masih sejaman dengan Majapahit.
Kalau dilihat terasa gagah, sebab panjang ada yang melebihi dua kilan. Besinya
matang tidak kebanyakan menggunakan besi baja. Pamor kebanyakan memakai pola
Pamor Gajih. Dan kalau dipandang lama-lama seakan-akan bersap-sap. Mungkin
terlalu lama dalam pembakaran, maka jika tidak hati-hati merawat, besi gampang
geripis, sebab air yang diambil untuk mencampur dalam pembikinan adalah air
laut. Yang dibuat lengkok, selalu tidak merata.. Kebanyakan renggang di bagian
belakang, tetapi tengah sampai ujung sangat rapi.
7. KERIS BUATAN JAMAN SENDANG.
Juga masih sejaman dengan Majapahit,
tetapi segalanya kelihatan wagu. Panjang kurang dari dua kilan. Yang keluar lurus sengaja dibuat lebar ujung tidak
runcing. Hanya besinya Selalu kelihatan hitam dan seakan-akan basah. Karena
airnya selalu mengambil dari pegunungan. Kalau yang dibuat lengkok, lengkoknya
kaku tidak merata. Pengetrapan pamor kurang padat, terasa mengambang. Namun
begitu keris dalam cara pembuatan ini sangat dirasakan kewingitannya.
Kebanyakan buatan dari jaman ini kerisnya selalu kelihatan lugu, tidak banyak
mengisikan ricikan, malahan kebanyakan ganja memakai cara irasan. Pangetrapan
pamor tidak teratur tetapi malahan menimbulkan rasa serem. Jika diraba terasa
halus.
Konon dalam penelitian, karena pamor
yang diterapkan dalam badan keris ini tidak begitu padat, maka bila ada yang
meraba atau menelusur, dianjurkan jangan sampai derijinya terkena pamor, itu
sangat berbahaya.
8. KERIS BUATAN
JAMAN KERAJAAN DEMAK.
Kebanyakan buatan jaman ini mempunyai daya tarik
tersendiri, ialah bila dilihat sepintas lalu masih seperti meniru-niru buatan
Majapahit, tetapi jika diperhatikan benar-benar walau besinya basah seperti
besi Majapahit, namun pamor yang menempel di situ seolah-olah mengambang. Dari
itu bisa diketemukan musababnya, bahwa walau besi keris buatan Demak memang terdiri dari besi
pilihan, tetapi sayang airnya yang terang tidak memadai. Malah bisa dikatakan
air yang untuk mencampur pembuatan keris dari negeri ini, terdiri dari air
asin.
9. KERIS BUATAN
JAMAN KERAJAAN PAJANG,
Kelihatan besinya walau terpilih
tetapi masih juga kurang campuran bajanya dan kebanyakan kurang matang
mencampurnya, sehingga dalam perabaan terasa kurang mantap, apalagi yang keluar
sebagai keris yang berlengkok. Maka oleh para mPu di kala itu, bila keris
berlengkok, dibuatnya agar keris sedikit besar (berawa: Jawa), Sogokan panjang
tetapi manis. Ganja dibuat panjang dan Gandik panjang pun miring. Segalanya
itu mungkin untuk menutup kekurangannya, namun masih juga tidak bisa mengejar
kesempurnaan mengenai keluarnya
pamor. Sebab walau keris tersebut diberi
pamor banyak sekalipun, terpaksa banyak yang terserap masuk ke dalam awak-awak.
Jadi kesimpulannya: Keris dalam pembuatan jaman Pajang ada buruk, tetapi juga
ada baiknya, ialah: Kekurangan kesempurnaan dalam pembuatan tersebut, malahan
menjadi sarana meresapnya pamor yang diterapkan di situ, sehingga keris buatan
Pajang ini, bila diuji mengenai daya keampuhannya, mungkin lebih meyakinkan
jika dibanding dengan pembuatan masa lain.
10. KERIS BUATAN
JAMAN KAHURIPAN,
Keris buatan jaman ini pun mempunyai
ciri tersendiri, ialah: Bila sengaja dibuat lurus, kebanyakan tidak memakai
ganja susulan pun tanpa ricikan banyak. Maka kelihatannya tidak begitu mengesankan (kemba: Jawa). Jika yang
merupakan keris Luk, maka pembuatan luknya tidak merata, tetapi lantas menjadi
ciri tersendiri, umpamanya mulai belakang dekat ganja luknya biasa seperti
keris.lain-lain, tetapi setelah jatuh di tengah lantas kembali hanya lurus
saja. Pun juga mengenai pamornya juga mempunyai daya tarik tersendiri, ialah:
Hampir semua buatan jaman ini pasti pamor sanak merambut dan bisa dibuat lurus
urut teratur. Sayang tidak begitu terlihat sinarnya, malahan bisa digolongkan
suram tidak bersinar.
11. KERIS BUATAN
JAMAN MATARAM.
Keris buatan jaman ini bisa dikatakan terdiri dari
beberapa kesatuan rasa pendapat, yang dicipta dan dibabar menjadi karya nyata.
Maka bisa digolongkan cakriknya sudah mulai mendekati kesempurnaan, dalam arti
kata para mPu di jaman ini tidak terikat harus membabar satu macam bentuk dan
dapur, tetapi sudah berani membabar segala sesuatu yang diinginkan. Maka di
jaman ini walaupun juga para mPu masih membabar keris cakrik Mataram pada
jamannya, agar supaya bisa menjadi peninggalan ciri. Tetapi
juga ada di antara para mPu di jaman itu yang membabar keris-keris yang
berbentuk atau dalam istilahnya dapur dari jaman-jaman terdahulu, umpamanya
dapur Kyai Blabak dari Pajajaran, dapur kyai Ganjawisa dari Majapahit dan lain-
lain.
Ciri khusus dari pembuatan jaman ini
adalah. Ganja sebitlontar sedikit panjang, besinya hitam kebiru-biruan sebab
air yang untuk mencampur adalah air yang bersih, maka bisa dikatakan bahwa
keris tersebut kurang campuran bajanya. Jika membuat keris luk, menggelombangnya
sangat teratur, dan soal rabaan dari awak-awak terasa sangat halus. Keluarnya
pamor ke banyakan byor.
12. 12. KERIS BUATAN MATARAM SENOPATEN,
Buatan di jaman ini sudah bisa
dikatakan sempurna, berkat manunggalnya rasa pendapat dalam ciri-ciri
pembuatan. Di jaman ini, mulailah para mPu dapat membanding-banding mana yang
sekiranya kurang dan mengecewakan, di situ dalam pembuatan pada jamannya segera
diperbaiki. Maka pembuatan
pada jaman ini sudah bisa dikatakan baik melebihi jaman-jaman lain, sampai
dengan pembuatan pada jaman Mataram sebelumnya.
Keris pembuatan Mataram Senopaten
mempunyai bentuk yang manis luwes, jika keluar lurus kelihatan sedang dan tebal
tipis maupun panjang lebarnya sangat diperhatikan, sehingga sangat indah
dipandang. Besinya hitam kebiru-biruan tetapi bersinar, sebagai tanda
percampurannya seimbang. Pengetrapan pamor sangat hati-hati padat dan halus
dalam perabaan. Dalam kesimpulannya buatan Mataram Senopaten adalah paling sempurna
dalam rencana dan pembuatannya. Hanya saja mengenai keampuhan, mungkin
sebanding dengan buatan pada jaman-jaman lain.
13. KERIS BUATAN JAMAN SULTAN AGUNGAN,
Dalam jaman ini dalam pembuatan
keris tidak banyak berbeda dengan Mataram Senopaten, hanya soal besinya sedikit mentah, tetapi
sangat kaya akan pamor.
No comments:
Post a Comment